Home / Indonesia Subtitle / Missing: The Other Side Episode 01 Drama Korea Indonesia Subtitle

Missing: The Other Side Episode 01 Drama Korea Indonesia Subtitle

Missing: The Other Side Episode 01 Drama Korea Indonesia Subtitle, Missing: The Other Side Episode 01 Drama Korea, Missing: The Other Side Epi 01  Indonesia Subtitle nonton dramaqu, Missing: The Other Side Episode 01 Drama Korea nonton dramaqu. Download drama Korea, China, Taiwan, Jepang, variety show dan film subtitle Indonesia.

Missing: The Other Side Episode 01 Drama Korea Indonesia Subtitle

File: Missing The Other Side episode 1

“Kami mencari putri tersayang kami,
Kim So-hee.”Hari kesepuluh
sejak Kim So-hee menghilang.

Kepolisian dan pemadam kebakaran
menggelar pencarian besar-besaran,

tapi belum ada bukti yang ditemukan.

Menurut kepolisian,
jumlah laporan kasus penculikan

terus meningkat
selama lima tahun terakhir.

Ada sekitar 7.000 anak-anak

yang belum juga ditemukan.

Tolong, jangan!

Missing: The Other Side

Episode 1

Dragon Chemicals

terpuruk tahun lalu
akibat perang dagang AS-Tiongkok,

tapi performa akan membaik
di kuartal kedua

dan mulai pulih di kuartal ketiga.

Diperkirakan meningkat 4,5 persen
di kuartal pertama, 4,2 di kuartal kedua,

5,4 di kuartal ketiga,
lalu 8,2 persen di kuartal keempat.

Simpel dan Cepat! Tunai Cepat

Anda mengerti?

Tunai Cepat

Baiklah.

Ini artinya Anda akan lebih berisiko
kehilangan modal.

Kalau itu, aku jelas mengerti.

Kemarikan.

Jumlahnya 100 juta won.

Kenapa kau hanya meminta 100 juta won?
Hartaku banyak.

Pak.

Anggaplah Anda dapat uang kaget
sebesar satu miliar won.

Sudah ada rencana detail penggunaannya?

Di situlah perbedaan
orang kaya dan orang miskin.

Intinya bukan jumlah uangnya,

melainkan pengelolaan dan penyimpanannya.

Bisa menguasainya, pangkal kaya.

Jadi, intinya kenaikan stabil
dengan risiko rendah?

Ya. Anda benar sekali.

Mudah sekali.

Silakan baca ini sebagai referensi.

Tiap bulan, saya akan kemari

untuk menjabarkan
kondisi keuangan global dan investasi.

Baiklah. Terima kasih, Pak Kim Seok-hoon.

Kim Seok-hoon

Untuk pertumbuhan Anda yang stabil
tanpa batas! Seoyang General Finance

Tunggu.

Apa ini Seoyang General Finance?

Pak Kim Seok-hoon.

Apa maksudnya ini?

Anggap saja ini peringkat kredit.

Pak Kim Seok-hoon?

Ya, ada.

Katanya ada, Pak.

Tentu saja.

Kini hubungan kita terjalin.

Tadi masih canggung.

Selamat tinggal, Manis.

Tolong dimaklumi.

Pak, saya nyaris tersinggung.

Astaga. Jangan tersinggung.

Pak Park.

Nama: Park Bong-pil

Dia preman yang gemar menipu
pengusaha kecil.

Bulan lalu, dia menipu para pedagang
di Pasar Sangwon, lalu kabur

membawa 100 juta won.

Tabungan pemilik toko sayuran
sampai ludes.

Karena tak bisa bayar kontrakan,

dia menggadaikan cincin emas
dari ibu mertuanya.

Naif sekali. Sudah kuduga
kejadian macam ini akan menimpanya.

Di mana arlojinya?

Penipuan yang sempurna diawali
dari busana yang tepat. Kau tak tahu?

Lagi pula, kaulah yang berkeras

memberi mereka 100 juta won.

Sudah telanjur, sekalian saja mencebur,
mengembalikan uangnya.

Memangnya kau yang menipunya?

Kau cuma menonton dan dapat bagian.

Nam-kook, cepat ambilkan arlojinya.

Pak Park cuma penipu dan preman,
tapi dia tertarik pada investasi.

Lucu, ‘kan? Katanya itu tren.

Bukankah kita sama?

Kau PNS, aku wiraswasta.

Ini.

Kita juga mengakali penipu.

Kita berbeda darinya.

Aku menyalurkan bakatku tanpa diupah.

Benar. Kita ini berbudi…

– Penipu berbudi.
– Astaga.

Terserahlah.

Ya, ini Kim Seok-hoon.

Kabarnya, Anda menanyakanku?

Boleh tahu sebabnya?

Kim Seok-hoon

Apa maksudmu? Lalu pria tadi siapa?

Sialan!

Tangkap bedebah itu!

Temukan dia!

Toilet Wanita

– Di sini tak ada.
– Kami ke arah sini, kalian cari ke sana.

– Siap.
– Siap.

Katamu Kim Seok-hoon
dalam perjalanan bisnis?

Aku sudah minta maaf berulang kali.

Mana kutahu penerbangannya dibatalkan?

Jika bisa meretas bencana alam,
aku bukan manusia,

– tapi dewa.
– Jangan mengomel. Toh kau masih hidup.

Enak sekali bicaramu mentang-mentang
bukan kau yang terancam. Dasar jahat.

Aku sedang kerja,
masih menggarap laporan kondisi rumah.

Sudah, ya.

Aku juga kedatangan pelanggan.

Mampirlah ke pasar, kembalikan
uang mereka, dan jangan lupa komisinya.

Jangan mengutil.

Hei. Hei!

Setelah bicara seenaknya, malah ditutup.

Sialan.

– Selamat datang.
– Selamat datang.

Pasar Sangwon

Untukmu, 19 juta.
Aku mengambil komisi satu juta won.

Tak perlu menghitungnya.

Terima ini dan berbagilah
dengan pemilik pegadaian.

Tak usah. Dia tak berkontribusi.

Semuanya kubereskan.

Juga, berikan ini kepada pemilik toko ikan

dan pemilik kedai tteokbokki.

Astaga. Ada mayat.

Ya ampun.

– Identitasnya?
– Namanya Kim Mi-ok.

Dia dilaporkan menghilang setahun lalu.

Mayatnya membeku,
jadi, sidik jarinya bisa dipindai.

Bekas cekikan.

Mau apa dia?

Permisi, Pak. Kau mau apa?

Pak?

Aku

Detektif Baek Il-doo
dari Unit Orang Hilang.

Maka itu,

sedang apa kau di TKP kami?

Kau tahu siapa wanita ini?

Kau mengenal korban?

Kim Mi-ok. Usianya 33 tahun ini.

Karyawan perusahaan penerbit dan lajang.

Dia tak bisa dihubungi
sepulang dari makan malam kantor.

Lalu kenapa?

Intinya, dia mati.

Serahkan jasadnya ke Forensik
dan perintahkan autopsi secepatnya.

– Baik.
– Baik.

Bagimu, dia cuma satu
dari sekian banyak jasad,

tapi keluarganya mencarinya
dan merindukannya setahun ini.

Ya, seram, ya?

Kau mengusut kasusnya selama setahun,
lalu tiba-tiba mayatnya ditemukan.

– Apa katamu?
– Benar. Dia cuma mayat bagiku.

Bukan waktunya sentimental.
Ini waktunya menemukan pelaku.

Aku pergi dulu.

Astaga, dasar kurang ajar.

Sejak dulu, dia memang kurang ajar,
tapi belakangan ini, dia sensitif.

Dia cekcok dengan tunangannya
sebelum menikah.

Selamat datang.

Sudah membuat janji?

Ya, aku mau mengepas pakaian.

– Nama Anda?
– Shin Joon-ho.

Nama tunanganku Choi Yeo-na.

Tadi tunangan Anda menghubungi
dan membatalkan janji temu hari ini.

– Baiklah, kalau begitu.
– Ya.

Kau serius melakukan ini?

Baiklah. Terserah kau saja.

Aku juga mulai muak.

Tolong aku! Tolong!

Ya. Aku di…

Hei! Apa-apaan kalian?

Semuanya kurekam.

Mau apa dia?

Apa? Kenapa?

Sial.

Tak kusangka kita bertemu di sini.

Pak. Tak kusangka kita berpapasan di sini.

– Pak.
– Dasar licik.

Beraninya kau mencoba menipu bosku?

Tampaknya, kau salah paham.

Bisa lepaskan aku?

Kalian sekongkolan?
Norak sekali pakai setelan itu.

– Mau apa kau?
– Menurutmu apa, Bedebah?

– Sini kau.
– Kenapa?

Sialan.

Tangkap dia!

Jika orang hilang ditemukan tewas,

serahkan kasusnya dan cari pembunuhnya.

Kenapa panggilanku kepadanya penting?

Jangan mengeluh.

Kau cekcok dengan tunanganmu lagi?

Lihat saja aku.

Istriku kubiarkan mendominasi
dan rumah tanggaku sangat bahagia.

Kabari aku usai Forensik menghubungi.

Astaga.

Minggir. Minggir!

Minggir!

Bu. Tunggu. Lewat sini. Cepat.

Astaga.

Astaga, dasar berengsek.

Hei. Bangun. Hei.

Apa ini layanan darurat?
Ada orang berlari ke tengah jalan,

lalu pingsan tertabrak mobil.

Bagaimana kondisi pasien?

Dia tertabrak mobil.
Tanda vitalnya normal, tapi dia pingsan.

Kita lakukan rontgen.

Baik.

– Tunggulah di sini.
– Ya.

Memanggil Dokter Lee

Kode Biru! Pasien gagal jantung!

Ambilkan defibrilator. 200 joule, isi.

200 joule.

Minggir.

Satu, dua, tiga.

Isi daya 256.

Isi daya 257.

Tahan. Satu, dua, tiga.

– Pantau tanda vitalnya.
– Baik, Dokter.

Sudah siuman?

Aku di mana?

Dokter bilang kau akan baik-baik saja.

Apa aku terlihat baik-baik saja?

Kau menabrakku, ‘kan?

Tidak. Kau yang berlari ke tengah jalan.

Kau pengemudi mobil.
Mestinya kau memperhatikan jalan.

Pasti kau sedang tak fokus, ya?

Sedang main ponsel?

Nanti terbukti di kamera dasbor.

Jangan asal bicara.

Kutunggu di sana.
Keluar jika sudah selesai diinfus.

Mau ke mana? Jangan pergi. Tunggu.

Jangan kabur, ya?

Aduh.

Tim Pencarian Orang Hilang

Hei, bagaimana hasilnya?

Ada tanda-tanda pencekikan,

tapi penyebab kematian masih diusut.

Serahkan saja datanya ke Unit Jatanras.

Mungkin sebaiknya begitu.

Entah aku mencari orang atau jasad orang.

Kenapa di sini kosong?

Kami keluar untuk kerja di lapangan.
Itu tugas kita.

Kita buang waktu ke sana kemari,

tapi belum ada hasil sama sekali.

Kudengar juga si bocah mengeluh
soal investigasi kita.

– Tunggu, Bu.
– Harap tenang.

Ha-neul hilang.

Tolong temukan Ha-neul!

– Jangan, Bu.
– Bu!

– Harap duduk di sini.
– Silakan duduk di sini.

– Tolong bantu tenangkan.
– Baiklah. Baik.

Tenang dulu.

Ceritakan perlahan dan mendetail.

Siapa itu Ha-neul? Anak Anda?

Tadinya dia bermain di rumah,
lalu tiba-tiba keluar.

Padahal segera kususul,
tapi dia tak kelihatan di mana pun.

Kasihan putraku!

Di mana-mana tak kutemukan.
Dia menghilang.

Tunggu, Pak.

Sayang.

Anda ayah si anak?

Ya. Sudah kucari di seluruh daerah kami,

tapi nihil.

Tolong temukan putraku. Kumohon.

Anda punya fotonya, bukan?

Merekrut Anggota

Seo Ha-neul

Mencari Anak Hilang,
Nama: Seo Ha-neul, anak laki-laki 7 tahun

– Boleh saya bertanya?
– Tentu.

Anda pernah melihat anak seperti ini

di taman bermain atau di sekitar sini?

– Ini bagian mana?
– Bagian belakang.

– Terlalu tinggi. Turunkan sedikit.
– Ya.

Aku seharian belum makan.
Biarkan aku sekalian makan.

Kau memang kusuruh memeriksakan diri,
tapi bukan pemeriksaan total.

Kolonoskopi, apanya.

Satu tes tambahan tak ada bedanya.

Aku tak bakal kena.

Dasar picik.

Pak Kim Seok-hoon.

Hei, Pak Kim Seok-hoon. Kau dipanggil.

– Aku?
– Ya.

Kuambil ini dari sakumu.

Kim Seok-hoon, Seoyang General Finance

Aku mendaftarkanmu
karena tadi kau pingsan.

Ini kunjungan pertama Anda
ke rumah sakit kami?

– Kim Wook.
– Apa?

Itu namaku. Kim Wook.

Wook berarti cerah.

Orang yang mencerahkan dunia.

Wook.

Sudah ketemu?

Tidak, aku di rumah sakit.

Akan kuceritakan detailnya
saat di sana. Sampai nanti.

Tagihannya lewat asuransi.

Pelakunya membuka gembok,

menaruh mayat di dalam,
kemudian memasukkannya.

Kau ini siapa?

Barang: Pakaian,
Ditemukan oleh: Kang Myung-jin

– Hai, ada apa?
– Di mana kau?

Aku akan melapor ke polisi.

Melapor?

Semua ini karena rasa keadilanku
yang sia-sia.

Saat melihat ketidakadilan,
mestinya aku tutup mata, tapi susah.

Hidupku melelahkan.

Kenapa menelepon?

Aku ingin merayakan denganmu
sambil minum di markas kita.

Merayakan apa?

Karena selamat dari kecelakaan mobil?

Kau kecelakaan?

Kau terluka? Kau tak apa?

Halo?

Wook?

Bodohnya orang-orang sinting itu.

Diam dan bergegaslah.

Hei, ini.

Ini.

Hei.

Pastikan cukup dalam.
Kepalanya nanti kelihatan.

Bos.

Si berengsek itu sedang apa?

Dasar gila.

Biarkan. Lekas.

Astaga.

– Tunggu. Hei!
– Sial!

Tangkap dia!

Berengsek!

Cepat temukan dia!

Sial. Jatuh ke mana si bedebah itu?

Tak ada jalan lain.

Jika dia jatuh dari sana, dia pasti mati.

Mari kembali saat siang,
setidaknya mencari mayatnya.

Sementara itu, kita pulang.

Ayo.

Di mana aku?

Siapa kau? Di mana aku?

Siapa kau?

Jangan mendekat!

Kau menculikku, ‘kan?

Menculik?

Jangan mendekat!

Jangan coba-coba.

Kau mau apa?

Siapa kau?

Hari ini tanggal berapa?

Sial. Jamnya mati.

Sudah berapa lama?

Di mana pakaianku?

Di luar.

Jong-ah, benar di sini?

Di sini sinyal terakhirnya dilacak.

Aku akan melapor ke polisi.

Ke mana dia pergi?

Jong-ah.

Ini dibuat khusus.

Ini dia!

Ada tulisan di sini. Apa bacanya?

“Semua untuk satu, satu untuk semua.”

Itu dialog dari “The Three Musketeers”.

Aku tahu itu.

Ini milikmu,

dan ini milikmu.

Ini saatnya makan, Sayang.

Boleh aku pinjam telepon?

Tak punya. Tak ada sinyal di sini.

Bukan ponsel, telepon dudukmu.

Tak punya.

Bisa-bisanya di Korea tak dapat sinyal?

Kau melihat dompet hitamku?

Tidak.

Mungkin anjingmu yang mencurinya.

Kau yang anjing!

Saat mencapai separuh jalan,
kau akan melihat pohon besar.

Kau ditemukan di situ,
jadi, coba periksa di sana.

Yang benar saja.

Semua pohonnya terlihat sama.
Apa maksudnya?

Astaga.

Pasti itu yang dimaksud.

Kau pasti penyelamatku.

Terima kasih.

Benar juga, dompetku.

Ya!

– Bagus.
– Dia terdampar di mana?

Apa dia di sana?

– Coba cari sekitar sini.
– Dia ke mana sebenarnya?

Menyebalkan sekali.

Kami sudah teliti mencari
dan yakin jatuhnya di sekitar sini.

Mungkin dia mati
karena jatuh dari ketinggian.

Jika mati, pasti ada mayatnya.

Mungkin mayatnya digondol binatang liar.

Diam!

Yakin sudah teliti?

Cari lagi. Cek sebelah batu besar itu.

Aku yakin ini tempatnya.

Sulit dipercaya.

Kak.

Sana pergi!

Sialan.

Mereka ke arah lain.

Periksa ponselnya
dan datangi semua lokasi memungkinkan.

Jika dia mati, pastikan ada mayatnya.

Baik.

Ayo kembali.

Siapa kau?

– Kak, mau ke mana?
– Aku bukan kakakmu!

Kakak!

Dilarang Masuk

Katanya tak ada sinyal.

Kafe Hawaii

Ternyata ada kafe di sini.

Seo Ha-neul

Bu Jang bilang kini ada imbalannya.

Sepertinya kini cukup serius.

Kudengar begitu.

Berapa lama kau akan jaga dia?

Sebentar lagi.

Kubawa ke rumahku saja.

Dia terus mencari ibunya.

Dia lebih baik bersamaku.

Tapi di sana ada anak-anak lain.

Anak-anak itu mudah berteman.

Jadi, di sini akan lebih tenang

dan lebih mudah bagi kita juga.

Tak ada orang?

Aku belum pernah melihatnya.

Kapan dia datang?

Naiklah.

– Akan kubawakan He-neul makan.
– Baik.

Ha-neul, ayo naik.

Ayo.

Hei.

Boleh pinjam teleponmu?

Mati.

Sudah lama tak kugunakan.

Kau lucu.

Aku tahu zaman sekarang
telepon duduk itu langka,

tapi kau punya toko buka.

Astaga.

Kalau begitu, boleh pinjam ponselmu?

Di sini tak berfungsi.

Daerah macam apa ini?

Di mana kantor polisi terdekat?

Di dekat sini tak ada.

Bisa pesan es Americano?
Buat yang dingin sekali.

Tambah satu shot, agar kuat rasanya.

Ini kafe tanpa mesin…

– Di sini bayar dulu?
– Bukan begitu.

Lalu kenapa kau menatapku begitu?

Aku baru kali ini melihatmu.

Kalau punya toko

pasti ada pembeli
yang belum pernah kau lihat.

Apa ini khusus anggota?

Apa karena dandananku begini?

Tentu saja tidak.

Kalau begitu, kembalilah bekerja.

Kafe Hawaii

Aku yakin dia ke sana.

Sedang apa kau di sini? Dompetmu ketemu?

Aku ingin meminjam ponsel, tapi…

Sudah kubilang di sini tak ada sinyal.
Mau pinjam dari siapa?

Aku lihat ada wanita
memakai ponsel berjalan kemari.

Rambutnya panjang dan dia tinggi.

Aku yakin dia ke arah sini.

Jika dompetmu sudah ketemu, pulanglah.

Di daerah ini tak dapat sinyal
sama sekali.

Aku berencana pergi
meski kau hentikan.

– Aku pergi.
– Begitu.

Sebaiknya aku pergi saja.

Ya, sudah. Sana.

Di mana aku menelepon…

Di mana aku bisa naik taksi?

Jika menyusuri jalan ini 30 menit,
akan ada halte bus.

Jika naik bus ke kota,
kau bisa naik taksi dan bus.

Bebas pilih mana dan pergi.

Jangan berkeliaran lalu ketinggalan bus.
Cepat sana pergi.

Dia ini kenapa?

Astaga.

Pak!

Astaga, padahal dia bisa menungguku.

Astaga.

Jadwal Bus Kota,
Daesang-ri 11.30, Mayun-ri 13.30

Astaga, yang benar saja.

Bus macam apa
yang jadwalnya sehari sekali?

1 Perhentian, Waktu pukul 13.00. Duon-ri

Mencari Anak Hilang,
Nama: Seo Ha-neul, anak laki-laki 6 tahun

Kafe Hawaii

Air. Bisa minta segelas air?

Kami sduah tutup.

Meski tutup, kau masih bisa
memberi segelas air.

Omong-omong,

aku belum melihat pemilik kafe ini
seharian.

Aku pemiliknya.

Masih muda sudah sukses.
Keluargamu kaya?

Aku tahu ini pedesaan,
tapi kenapa jadwal bus cuma sekali sehari?

Apa orang di sini tak kerepotan?

Tak kerepotan sama sekali.

Ya. Siapa yang masih naik bus?
Semua orang punya mobil.

Tapi aku tak melihat
satu mobil pun di jalan.

Apa garasi kalian di dalam rumah?

Seperti di luar negeri?

Apa maumu?

Ya.

Aku butuh tempat menginap.

Apa di daerah ini
ada tempat menginap,

seperti hostel?

Wah, semua ini barang antik.

Sudah lama tak dipakai.

Lama apanya. Ini seperti
sudah tak dipakai 100 tahun.

Istirahatlah dengan nyenyak, lalu pergilah
sepagi mungkin.

Astaga, mana bisa nyenyak di sini?

Aku sensitif soal tempat tidurku.

Suara apa itu?

Hei, Nak.

Kenapa kau menangis sendirian di sini?

Di mana ibumu?

Ibuku belum datang.

Aku sudah menunggunya.

Ibu.

Hancurkan

Sudah berapa lama kau menunggu?

Aku sudah tidur dua malam.

Apa ibumu pergi?

Entahlah.

Siapa namamu?

Ha-neul. Seo Ha-neul.

Ha-neul?

Wah, namamu indah.

Mau kuberi tahu rahasia?

Rahasia?

Sejujurnya,

Aku juga

kehilangan ibuku

saat aku seusiamu.

Kau menemukannya?

Tidak.

Kau tak menemukannya?

Ibu!

Hei. Ha-neul. Tunggu.

Dengarkan dulu
penjelasanku hingga akhir.

Aku kehilangan ibuku,

tapi aku tak menangis.

Ha-neul, ibumu pasti akan kembali.

Jika dia tak datang,
akan kubantu mencarikan, ya?

Aku ahli dalam itu.

Ha-neul. Tenanglah.

Kau sungguh akan mencarikan ibuku?

Ya, akan kucoba.

Pokoknya, tak apa-apa.

Berjanjilah.

Janji?

Aku janji. Anggap dirimu beruntung.

Aku orang baik yang tulus.

Ada apa? Kau terluka?

Ha-neul, berapa usiamu?

Usiaku tujuh tahun.

Seo Ha-neul.

Tujuh tahun.

Ternyata kau.

– Ha-neul.
– Astaga!

Astaga, kau menakutiku.

Kenapa kau tiba-tiba
datang tanpa suara begitu?

Tadi aku di kamar, lalu ada
suara menangis. Makanya aku keluar.

Bukan salahku dia menangis.

Dia sudah menangis
saat kutenangkan.

Ya, bukan, Ha-neul?

Ha-neul, kenapa kau keluar?

Kau tertidur sambil berjalan lagi.

Ayo masuk.

Masuk dan beristirahatlah.

Akan kutenangkan anak ini
dan menidurkannya.

Kenapa si anak hilang terkurung di sini?

Dia diculik?

Seharusnya dia dibiarkan mati
saat di hutan.

Kini aku membuat ini makin rumit.

Wanita itu juga kaki tangannya.

Dia sengaja memotong kabel teleponya.

Kini semua masuk akal.

Terlalu banyak untuk kuhadapi sendiri.

Tunggu.

Untuk apa kuhadapi sendiri

padahal tinggal lapor polisi?

Ini bahaya. Aku harus mengusirnya.

Kalau semalam saja tak apa.

Tampaknya dia tak tahu.

Usir dia setelah bangun
besok pagi.

Baik. Aku pergi dulu.

– Anak itu tak bisa tidur.
– Ya. Silakan.

Hei. Siapa melakukan apa?

Bukan apa-apa.

Ayolah. Kau baru bilang
harusnya tidak melakukan sesuatu.

Katamu perlu mengusir
seseorang besok pagi.

Kau tak ada kerjaan lain
selain menguping?

Di sini tak banyak kegiatan.

Kau tahu itu.

Ceritakan.

Siapa? Mau diusir bagaimana?

Apa anak Thomas terurus?

Aku tahu. Pasti tetangga baru muda itu.

Aku penasaran
bagaimana kau mengusirnya.

Tak semua bisa pergi
dari dusun ini.

Tidurlah.

– Hei, Jang.
– Lepaskan.

Kubilang aku bosan.

Siapa tahu,

aku mungkin bisa membantumu mengusirnya.

Diam.

Begidik setiap kali kuingat

mulut bodohmu
membuatku menjebak orang tak bersalah.

Dia tak bersalah.

Wanita jalang itu memang mengkhianatiku.

“Wanita jalang itu”? Itu istrimu.

Dan dia menangis,
menunggu bedebah sepertimu.

Dia berpura-pura.

Kenapa kau cuma percaya ucapannya?

Sudah kubilang.

Dia dengar ada rencana konstruksi
jalan tol di tanahku

– dan ingin dapat kompensasi…
– Jalan tol sialan itu

tak pernah dibenahi setelah 10 tahun.

Kukatakan persis
seperti katamu ke polisi

dan aku dianggap gila.

Padahal, istrimu datang ke kantor polisi

dan bilang harus menemukanmu.

Dia wanita malang dan baik. Ya?

Berhentilah mengganggunya.

Pak Jang.

Apa kau diberi uang oleh istriku?

Kurang ajar…

Apa gunanya?

Sia-sia meladenimu.

Pertama, aku akan pergi
dan melaporkan ini ke polisi.

Periksa ponselnya
dan datangi semua lokasi memungkinkan.

Jika dia mati, pastikan ada mayatnya.

Jong-ah dan Nam-kook.

Semoga mereka baik-baik saja.

Hei, pagi juga kau.

Hei. Ini untukmu.

Aku belum makan apa pun.
Nanti asam lambungku naik.

Kalau begitu, cepatlah.

Jangan sampai ketinggalan bus lagi.

Ya. Jangan sampai.

Omong-omong, Ha-neul tak kelihatan.

Dia juga tak ada di kamar.

Dia ke rumah temannya.

Begitukah?

Kalau begitu aku pergi
sebelum ketinggalan bus.

Hei. Ini.

– Bagus!
– Hebat!

Ini bagus.

Ya!

– Kalian, ini ada kudapan.
– Ayo!

Kudapan! Kudapan apa hari ini?

Duduk.

– Kukis dan susu.
– Kukis dan susu.

Anak pintar.

Ini.

Ha-neul, nikmatilah.

Biar kubersihkan mulutmu.

Enak?

Kenapa dia amat baik kepadanya?

Siapa wanita itu?

Astaga! Kau sedang apa?

Jangan berisik.

Jika wanita itu melihatmu,
kau akan dibunuh diam-diam.

– Anak pintar.
– Apa?

Dia mudah marah.

Mulutmu belepotan.

Ada yang mati lagi semala.

Apa?

Ikuti aku.

Baiklah.

Kini aku mengenalimu.

Ternyata kau.

Kau sudah besar.

Kau kenal aku?

Tentu saja.

Ibumu bercerita banyak tentangmu.

Ibuku?

Ya.

Mustahil.

Dia minggat saat usiaku tujuh tahun

dan tak pernah pulang.

Pasti dia tak ingat wajahku lagi.

Pasti.

Omong-omong, apa yang kau bicarakan tadi?

Katamu,

semalam ada yang mati.

Begini…

Ada perlu apa?

Ada perlu apa di sini?

Bu, kau tak apa?

Aku lapar. Beri aku makanan.

Kau asal bicara lagi, ya?

Choi Mi-ja

Kalau begitu, aku pamit.

Kapan aku diberi makanan?

Duduklah.

Kuhitung sampai sepuluh.

Satu.

Dua.

Tiga.

Empat.

Lima.

Enam.

– Hei, Ha-neul. Ayo menemui Ibu.
– Tujuh.

– Delapan. Sembilan.
– Serius? Menemui Ibu?

– Tentu saja. Aku sudah janji
– Sepuluh.

– akan mengantarmu.
– Akan kucari.

Ayo.

Ayo.

Kami bermain petak umpat.
Aku mencari, Ha-neul bersembunyi.

– Lalu ada pemuda…
– “Pemuda”?

– Siapa?
– Pemuda tampan bermata belok?

Sialan.

– Ha-neul.
– Ha-neul.

Hei. Jangan bergerak.

Buka kopernya.

Kenapa kalian ingin mengecek isinya?

– Bukalah selagi diminta baik-baik.
– Tak perlu baik-baik.

Hei. Jangan sentuh barang-barangku.

Cepat buka!

Dia kupegangi. Buka!

Hei!

Di mana dia?

Dasar!

Kalian pikir aku habis mencuri?

Bu Choi menyiapkan ini untukku.

Jika tak percaya, tanyakan saja sendiri.

Padahal aku tak suka jagung!

Daun lobak kering juga!

Di mana Ha-neul?

Mana kutahu?

Kalau tak ada di luar, mungkin pulang!

Dia belum pulang.

Ke mana Ha-neul pergi?

Ha-neul!

Akan kucari ke arah sana.

– Baiklah.
– Kau di mana?

Jika kau bisa keluar dari desa ini,

jangan pernah kembali lagi.

Sikap mereka pasti didasari rasa bersalah.

Ha-neul?

Ha-neul, keluarlah.

Nah.

Bersabarlah, ya. Kau tak apa di situ?

– Ya.
– Bagus.

Kenapa lagi kali ini?

Bisa temani aku saat aku bertemu ibuku?

Kau gemar sekali membuat janji, ya?

Sudah kukeluarkan, malah minta kutemani?

Kau takut dimarahi, ya?

Kau tak salah apa-apa.

Orang yang membawamu kemari
adalah orang jahat.

Tetap saja…

Baiklah, kenapa tidak?

Nanti aku sekalian pamer kepada ibumu.

Ayo.

– Pokoknya kau sudah berjanji.
– Ya.

Ayo berangkat.

Ternyata tubuhmu enteng sekali.

Kita sudah tak dikejar.

Ha-neul, kau sudah bisa keluar.

Ha-neul? Ke mana dia?

Ha-neul!

Permisi!

Kau punya ponsel?

Boleh kupinjam untuk menelepon? Ini.

Cepat.

Halo? Polisi?

Aku mau melaporkan anak hilang.

Namanya Seo Ha-neul.

Apa nama desa ini?

– Desa Duon.
– Desa Duon.

Detektif Bok!

Apa? Ada petunjuk?

Ada yang melapor melihat Ha-neul.

Ada banyak sekali laporan itu.

Periksa apakah ada yang berguna.

Ini laporan pria
yang bersama Ha-neul kemarin.

Kau yakin itu Ha-neul? Dia masih hidup?

Ayo.

Kau pasti bisa!

Ha-neul!

Ha-neul, kenapa kau di sini?

Kau meninggalkanku.

Tidak, aku mencarimu ke mana-mana.

Tidak.

Kakak, Ha-neul tersesat,

jadi, kuantar pulang.

Kau mengantarnya ke sini?

Ya. Aku hebat, ‘kan?

Tidak.

Ayo sini.

Mau ke mana? Jalan-jalan?

Aku mau ikut.

Jangan mengikuti kami

atau memulangkan Ha-neul ke sini.

– Hei! Dia balik!
– Ayo lari.

Kembalikan Ha-neul!

Ha-neul!

Ha-neul!

Ke sini.

Ha-neul!

Bu Choi, kami masuk!

Choi Mi-ja

Sore ini, anjing penyelamat menemukan

seorang nenek
pasien Alzheimer di pantai.

Choi menghilang tiga bulan lalu

saat berjalan-jalan.

Setelah mengusut lebih lanjut,
polisi menduga penyebab kematiannya

– akibat jatuh.
– Anjing lebih lihai dari manusia.

Berita selanjutnya.

Jalan Muchang,
penghubung Mujin dan Muchang,

diresmikan hari ini.

Konstruksi Choiseung…

Tadi kau lihat, ‘kan?

Nenek itu memanggil-manggil kita.

Setelah kita datangi,
dia dan perabotnya hilang.

Paman, kakiku sakit.

Kakimu sakit?

Sini.

Ha-neul,

aku akan menggendongmu

ke tempat ibumu…

Apa balasan darimu?

Nanti kuberi robot favoritku
yang bisa berubah.

Robot yang bisa berubah? Benarkah?

Jangan menarik ucapanmu.

Kapan kita bertemu ibuku?

Segera.

Aku baru melapor ke polisi.

Ayo.

Tunggu di sini sebentar.
Jangan ke mana-mana, ya?

– Ya.
– Bagus.

Peresmian Jalan Muchang?

Ya.

Tadi katamu aku bohong,

kini kau percaya?

Aku hanya bilang bahwa
pembangunan dimulai hari ini.

Aku tidak pernah bilang
bahwa istrimu membunuhmu.

Sudah kubilang, wanita itu membunuhku!

Siapa yang membunuh siapa?

Hei!

Istriku membunuhku.

Kenapa? Bukankah kamu sudah mati?

Kenapa kamu di sini? Keluar.

Aku datang untuk bertanya.

Apa katamu? Siapa yang mati?

Keluar. Mari bicara empat mata.

Lepaskan aku. Biarkan aku bicara!

Hei.

Dia ingin kamu melepaskannya.

Jangan hanya memegangnya seperti itu.

Kubilang, mari bicara empat mata.

Seorang wanita dengan Alzheimer
menyuruhku mengikutinya.

tapi dia tidak ada di rumah,
atau hal lainnya.

Dan sekarang,
pria itu bilang dia sudah mati.

– Wanita tua itu sudah pergi.
– Hilang ke mana?

Tempat yang bagus.

Kamu sungguh tidak mati?

Kenapa kamu terus menanyakan itu?

Semua orang di desa ini sudah mati.

Tapi kamu…

Aku benar!

Ini yang membuatmu pusing!

– Jadi, pria ini…
– Jangan berani mengatakan hal bodoh.

Bagaimana jika aku melakukannya?

Apa yang akan kamu lakukan
jika aku terus bicara?

Apa ini?

Aku pergi.

Baiklah.

Sampai jumpa.

– Akan kujelaskan kepadamu…
– Berhenti.

Pergilah.

– Masalahnya…
– Jangan mendekat!

Paman, kapan kita akan menemui ibuku?

Paman.

Ha-neul. Apa kamu

Apa kamu

Kamu sudah mati?

Sub by iQIYI
Ripped & Synced by @SULTAN KHILAF

Follow My IG
@sultan_khilaf_sub

Support Me:
https://trakteer.id/sultan_khilaf

Missing: The Other Side

Kalian melihat hantu?

Kamu bisa melihat hantu?

Semua orang mati dengan cerita.

Semua orang gila.

Kamu melihatnya di sana?

Ha-neul ada di sana.
Di situlah aku melihatnya!

Pikirannya sedang kacau.

Bukankah kamu menemukan korbannya
saat menangkap pelakunya?

Kamu tidak akan membantu jika terlibat.

Tempat apa ini?

Apa mereka akan percaya
jika kamu tidak melihatnya?

Ha-neul bawa apa?

Apa dia pergi untuk selamanya kali ini?

Kamu pikir akan mudah
untuk pergi tanpa lupa?

Kenapa aku bisa melihatnya
jika mereka tidak bisa?

About Nonton Drama Qu

Nonton Drama Korea Streaming Terupdate Subtitle Indonesia Gratis Online, Download Drama Korea, Tv Series dan Film Korea Terbaru Sub Indo. Nonton Streaming Drama Korea.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.