Home / Drama Qu / Record of Youth Episode 01 Drama Korea Indonesia Subtitle

Record of Youth Episode 01 Drama Korea Indonesia Subtitle

Record of Youth Episode 01 Drama Korea Indonesia Subtitle, Record of Youth Episode 01 Drama Korea, Record of Youth Epi 01  Indonesia Subtitle nonton dramaqu, Record of Youth Episode 01 Drama Korea nonton dramaqu. Download drama Korea, China, Taiwan, Jepang, variety show dan film subtitle Indonesia.

Record of Youth Episode 01 Drama Korea Indonesia Subtitle

File: Record of Youth.E01

PROGRAM INI DIPILIH
DAN DIDUKUNG OLEH KEMENTERIANBUDAYA, OLAHRAGA DAN PARIWISATA SERTA
BAKAT KREATIF KOREA

SIARAN LANGSUNG

Aku…

Aku minta tim penyelamat yang ada

segera lakukan pencarian
di tempat kejadian.

Kuyakin ada korban selamat.

Semuanya bisa diselamatkan.
Kumohon segera lakukan pencarian.

Pak Park No-gyu.

Pak Park No-gyu!

Kau ingin permintaan maaf dari Presiden,
tapi tutup telepon. Begitu saja?

Begitu?

Kau berniat bunuh diri, ‘kan?

Lumayan.

Pesonanya beda dengan Ha Jung-woo.

Sudah kubilang.
Menurutku Hae-hyo lebih baik.

Siapa namanya?

Ayolah. Jangan memilih pemain
yang tak kita kenal.

Siapa namanya?

RUANG TUNGGU AKTOR PARK DO-HA

ANUGERAH GELOMBANG DAN SENI BUDAYA KOREA

RUANG TUNGGU AKTOR PARK DO-HA

– Dia di dalam, ‘kan?
– Tak ada yang boleh masuk.

Aku bukan orang asing.

Aku penata rias, Lee Bo-ra.

Apa ini?

Badanmu mengenaiku.

Ini pelecehan seksual.

Minggir!

Mau tahu sesuatu?

Jangan biarkan siapa pun masuk.

Terutama Lee Bo-ra.

Dia seperti lintah.

Menjijikkan sekali.

Sepertinya aku pernah melihatmu.

Di mana, ya?

Aku mengerti. Minggirlah.

Kau tetap ingin masuk?

Biar aku yang akhiri hubunganku.

– Apa tak boleh?
– Tak boleh.

Aku harus mematuhi perintah.

Namun, ada pengecualian.

Kau boleh masuk jika bisa melewatiku.

Kita berpacaran selama lima tahun.

Aku bertindak bodoh
karena sulit menerima perpisahan kita.

Tapi apa kau harus perlakukan aku
seperti sampah?

Lalu, apa maumu?

Kita putus saja.

Aku yang mengakhirinya, bukan kau.

Rasanya aku ingin menghajarmu.

Aku tak bisa memukulmu
meski kau pantas dihajar.

Karena aku orang baik.

Kau berlagak sekali!

Hei!

Hei.

Kau. Apa-apaan ini?

Kubilang jangan biarkan dia masuk.

Aku berusaha semampuku
untuk menghentikannya.

Semampumu?

Semampumu?

– Darah…
– Aku menelusurimu

karena kau tampak tak asing.

Ternyata kau model.
Kau sering tampil di panggung.

Tapi kenapa hidupmu?

Apa katamu?

Kenapa? Apa ada yang salah?

Tak sangka aku bicara informal?

Setelah aku telusuri,
ternyata kita seumuran.

Mari kita bicara informal. Kau yang mulai.

Kau sudah gila.

Mimpiku adalah menjadi
seperti bajingan di depanku.

Bajingan seperti ini saja bisa.

Tapi waktuku…

tak banyak lagi.

IKUTI

Ya, bagus.

Lihat ke sini. Tatap kamera.

Bagus. Seperti itu.

Ya. Bagus.

Bagus.

– Ya, benar.
– Ya.

Ini dia. Ini yang terakhir.

Bagus! Selesai.

Berolahragalah.

Jangan ajak aku joging tiap malam.

Kami peduli denganmu.

Kolesterolmu tinggi.

Rawatlah dirimu dengan baik.

Aku akan merawat tubuhku.
Kau urus saja dirimu sendiri.

Apa kau mau kita saling merawat?

Sadarlah.

Meski begitu, aku punya satu hal
yang lebih baik dari kalian.

Tak hanya satu.
Ada yang kedua dan ketiga juga.

Kau sangat pandai berbicara.

Padahal kau belum wajib militer.

Hari ini pun kau

membahas wajib militer.

Itu Hye-jun. Pasti unggah foto.

Bertaruh 500 won, dia tak unggah.

Pengikutmu meningkat pesat.

Pengikutmu lebih banyak
dari Yoo Seung-ho dan Choi Jin-hyuk.

Entah kenapa terus bertambah.

Kerendahan hati yang berlebihan
itu menyebalkan.

Bukan rendah hati, tapi fakta.

Aku kalah.

Kenapa wajahnya?

Apa terjadi sesuatu?

PEKERJAAN TEREKSTREM

Tak mungkin ada masalah.

#PEKERJAAN PARUH WAKTU #SUATU HARI

Kelas atas sepertimu tak akan tahu
penderitaan kelas bawah seperti kami.

Pemilihan katamu berbahaya.

Pemilihan pemeran film
masih belum diumumkan?

Bagaimana jika dia tak terpilih?

Tak perlu cemas. Ada aku.
Aku akan urus dia.

Tolong urus aku juga.

– Hae-hyo.
– Katanya kau mau hidup mandiri?

– Bantu aku.
– Pak Kim. Enyahlah.

Pak Won.

– Bertaruh 500 won, itu pasti ibumu.
– Memang hanya dia yang telepon?

– Lalu siapa?
– Sedang apa?

Kau ke sini untuk bermain?

Kau pikir posisimu dengan Hae-hyo sama?

Kau berutang 1.000 won padaku.

Sudah kubilang bukan.

Ya, Ibu.

Kenapa tak datang? Ada pemotretan, ‘kan?

Ibu di mana?

Kau janji akan pindah salon
ke tempat langganan ibu, ‘kan?

Aku sudah menolak.

Ibu tak suka rambutmu. Tak kekinian.

Lupakan saja. Jangan gunakan
kata-kata gaul seperti itu.

Kita bicara di rumah saja. Sampai nanti.

Astaga.

Kenapa Jin-ju lama sekali?

Dia bertemu Direktur sebentar.

Apa kau mau minum sesuatu?

Ini tak sebentar.

Kau saja yang lakukan.
Aku tak mau menunggu.

Kemampuanku masih belum cukup.

Dia segera datang.

Lakukan saja sesuai perintahku.

Kau pernah melakukannya, ‘kan?

Saat itu aku hanya melakukan tahap dasar…

Cerewet sekali.

Apa aku pergi saja?

Kalau begitu…

Apa yang kau lakukan?

Sterilisasi.

Aku suka ini.

Biasanya orang menyentuh wajah
tanpa membersihkan tangan.

Aku tahu sejak kau
menyentuh wajahku sebelumnya.

Kau berbeda.

Terima kasih.

Pertemuan seperti apa? Apa acara formal?

Acara santai.

Kalau begitu, kubuat kau
terlihat cantik alami.

Matamu sangat indah.

Puji aku lagi.

Aku suka mendengarnya.

Lima menit lagi. Jika kukatakan sekarang,
terdengar tak tulus.

Astaga. Kau sangat bijaksana.

Maaf, kami terlalu lama bicara.

Biar aku lanjutkan setelah ini.

Hari ini aku mau dia yang meriasku.

“An Jeong-ha”?

Apa?

Aku akan membantumu
setelah selesai tahap ini.

Kubilang, aku tak mau.

Belakangan ini kau malas.

Aku tak suka menunggu.

Maaf, Profesor Kim.

Lanjutkan.

Baik.

Sampai bertemu.

– Semoga akhir pekannya menyenangkan.
– Dah.

Apa kau senang?

Apa?

Kau melagak karena dulu kerja
di perusahaan besar?

Bu Jin-ju.

Apa kau menghormatiku?

Rupanya kau terlena
karena Direktur menyukaimu.

Sepuluh tahun bekerja di industri ini,

aku tak pernah melihat orang hidup bahagia
setelah merebut klien orang.

Jika kau rebut klienku lagi…

Maaf, aku memotongmu.

Kubilang tak bisa, tapi dia bersikeras.

– Aku terpaksa…
– “Terpaksa”?

Mereka semua juga bilang
terpaksa melakukannya.

Hentikan omong kosongmu.

Jika ini terjadi lagi,

aku akan membuatmu jauh lebih menderita
dibandingkan saat kau bekerja

di perusahaan besar.

Kau dimarahi lagi, ‘kan?

Itu kompleks inferioritas.
Dia merasa lebih inferior darimu.

Kenapa dia merasa inferior dariku?

Karena kau hebat.

Terima kasih, Su-bin.

Rasanya sudah lama
sejak orang memuji kemampuanku.

Begitu? Jadi, kau lebih suka aku
daripada Sa Hye-jun?

Tidak begitu.

– Baik. Kau tegas.
– Ya.

– Kau sangat setia pada idolamu.
– Benar.

Besok Bu Jin-ju akan pergi
ke peragaan busana Homme.

Bilang saja ingin ikut.
Sa Hye-jun pasti datang juga.

Aku tak ingin memaksakannya.

Pasti akan tiba saatnya.

Aku akan berusaha keras
supaya bisa bertemu dia.

Dia bisa hilang dari industri ini.

Dia model terkenal,
tapi bukan aktor bagus.

Hei!

Benar, ‘kan?

Kudengar dia orang kaya.

Dia tinggal di Hannam-dong.

Tak menjadi pesohor pun,
dia pasti bisa bertahan hidup.

Hei. Kau jahat sekali.

Kubatalkan ucapanku tadi.

Hye-jun memang tinggal di Hannam-dong,
tapi dia bukan orang kaya.

Dia bekerja sangat keras dan baik hati.

Jeong-ha, hal paling menyedihkan
bagi penggemar adalah memuji

kepribadian pesohor.

Bagaimana kau tahu dia baik?

Ada klien.

Kembalilah bekerja.

Menyebalkan.

Kelakuanmu sudah seperti pacar Sa Hye-jun.

Cepat turun.

Karena dia membahasnya,
mari kita lihat wajah Hye-jun.

Hye-jun…

Mengidolakanmu membuatku terus berjuang.

Bagaimana keadaanmu di sana?

BIASKU

AKU PERGI KE TEMPAT YANG HANGAT
#KOTA KINABALU

Bagi temanku,
mimpi adalah pelindung dirinya,

tapi bagiku, mimpi

adalah tugas yang habiskan banyak uang.

MUTASI REKENING

SALDO AKUN

SA MIN-GI, TOKO BUKU,
KERETA BAWAH TANAH, BUS

SALDO AKHIR 85.500 WON

Kau sudah gila?

Bukan aku yang gila, tapi kau.

Kau belum kirim upah peragaan busana
dan kerja paruh waktuku.

Aku menghalangi Park Do-ha
supaya tak menuntutmu.

Aku tak salah. Butuh dua pekan
agar bekas luka ini hilang.

Aku tak melawan.
Aku dipukuli sampai akhir.

Kau tak bisa mengelak.

Sudah tak mempan lagi.

Hye-jun.

Kau juga tahu,
keadaan perusahaan sedang sulit.

Aku bahkan tak bisa membayar upahmu.

Berhenti untuk meminta dikasihani!

Kau selalu begini,
tak hanya sekali atau dua kali.

Kenapa aku harus mengemis
untuk mendapatkan uangku?

Saat orang lain keluar
dan mengataimu penipu,

aku bilang kau pasti bayar mereka

jika kau punya uang.
Aku bertahan dan memercayaimu.

Lalu, kenapa kau percaya?

Karena itu kau selalu dirugikan.
Kau terlalu naif.

Karena itu, aku mengelola uangmu.

Lupakan itu.

Kau kaget, ‘kan?

Ada apa denganmu?
Hubungan kita tak sebatas uang.

Kita berselisih karena uang?

Kau sungguh keterlaluan.

Tolong berikan uang Hye-jun.

Bukankah kau mengundurkan diri?

Jika sudah selesai
kemasi barang, pergilah.

Dasar menyedihkan.
Teganya kau memangsa model-model ini?

Kau pikir sampai kapan bisa bertahan?

Karena sudah berhenti,
kau bicara seenaknya?

Kau pikir kita takkan berurusan lagi,
Nona Lee Min-jae?

Dunia ini sempit.

Kita pasti akan bertemu lagi.

Kita ada di industri yang sama.

Pergilah baik-baik.

Aku akan tinggalkan industri ini
dan takkan bertemu kau lagi.

Aku ingin melakukan hal baik.

Selama bekerja di sini,
aku selalu ingin melakukan hal baik.

Tak usah ikut campur.

Perlu kubeberkan rahasiamu?

Mau mulai dari mana?

Aku hubungi media atau istrimu lebih dulu?

Tidak. Dinas Tenaga Kerja lebih dulu?

Kau sedang mengancamku?

Jika kau merasa ini adalah ancaman,

ada banyak yang bisa aku beberkan.

Ini alasanku sangat menghormatimu.

Kau pandai membaca keadaan.
Kau pasti akan sukses terus.

Jadi, berikan uang Hye-jun.

Jangan biarkan uang merusak reputasimu.
Bagaimana?

Tak mau.

Mari lihat siapa yang akan membuatmu
berubah pikiran?

Pasti istrimu.
Kalian akan bertemu nanti malam.

– Apa ini?
– Tiap kau berpisah dengan wanita,

aku yang mengurusnya. Kau tak ingat?

Kau akan lakukan apa dengan itu?

Dengan foto-foto ini?

PESAN BARU UNTUK ISTRI PAK LEE

Jika kau tak bayar dia,

aku akan lakukan rencana cadangan.

– Kau sedang apa?
– Buka pintu.

Tepat. Kenapa kau membukakan pintu?

Jadilah agenku, Min-jae.

– Apa?
– Aku butuh orang sepertimu.

Mari bicara setelah kau punya uang.

Mudah sekali merayumu.

Karena itu kau kena tipu.

Itu salah orang yang menipu,
bukan yang ditipu.

Pandangan macam itu
yang membenarkan penipuan.

Itu tindakan menyalahkan korban.

Kau pandai bicara.

Aku bilang akan tinggalkan
industri ini, ‘kan?

Aku tak melarangmu.
Aku bekerja di industri berbeda.

Min-jae.

Min-jae. Aku belum selesai bicara. Ya?

Kau keren sekali.

Aku terpana untuk sesaat.

Apa? Min-jae!

Kau harus memercayai suamimu.

Tunggu. Kita lanjutkan nanti.
Aku ada klien.

Aku harus mencari uang…

untuk menghidupi keluarga kita.

Ya.

Kenapa kembali? Kau puas sekarang?

Mari selesaikan pembicaraan kita.

Pembicaraan apa?

Kontrak kita bisa diakhiri
jika kedua pihak bersedia.

– Masih ingat, ‘kan?
– Tampaknya kau menganggap…

dirimu luar biasa.

Mari buat surat pemutusan kontrak.

Lakukan sesukamu.

Kau balas kebaikan dengan kejahatan!

Aku berlari ke sana kemari demi kau.

Berhenti jadikan aku alasan!

Atau aku akan menghajarmu.

Baiklah. Aku paham.

Mari kita berpisah.

– Aku tak bisa membayarmu.
– Ambil dan enyahlah.

Kupikir itu tak seberapa untuk berpisah
dengan manusia sepertimu.

Kau sudah tujuh tahun menjadi model.

Kau sudah mencapai puncak kariermu.

Itu semua berkat siapa? Aku!

Kau pikir kau bisa
menjadi aktor tanpa aku?

Kau tak akan bisa.

Kenapa?

Apa?

Apa kau mau menghajarku?

Itu semua demi kau.

Kau takkan kupukul.

Kau tak pantas dipukul.

Kau pikir kau sama dengan Hae-hyo?

Kau pikir

kau bisa menjadi seperti Hae-hyo?

Hye-jun.

Itu yang meresahkanmu, ‘kan?

Push-up dulu.

Naik.

Lalu, turun.

Turun sambil tarik napas.

Buang napas dan tarik badanmu.

Buka dada sedikit selagi tarik napas.

Buang napas. Terus bernapas.

Apa-apaan ini?

Aku sedang menunjukkan
bahwa aku tak sama denganmu.

Hae-hyo temanku.

Aku tak ingin menjadi seperti dia.

Yang benar saja.

LEE TAE-SU

SA HYE-JUN

Lega sekali rasanya.

Aku banyak menderita karena kau.

Kau terlalu banyak bicara
karena tak jadi dituntut.

Kau tak bisa dapat uang meski menuntutku.

Lebih baik aku bayar denda
daripada membayarmu.

Tahu alasan aku tak menagihmu?

Aku tahu kau takkan membayarku.

Aku harus lakukan hal yang lebih kotor
darimu untuk dapatkan uang itu.

Aku tak punya waktu untuk itu.

Kau takkan pernah sukses.

Kau selamanya akan hidup
menjadi bayang-bayang Hae-hyo.

Semangat!

Kau sedang apa?

Bersenang-senang.

Dia cepat sekali balas pesanku.
Tampaknya bisa ditelepon.

KAKEK

Halo, Kakek.

Ya. Kau sedang apa?

Aku juga sedang bersenang-senang.

Baguslah.

Apa kau butuh uang?

Aku tak menolak jika kau beri.

Apa cucuku hasilkan banyak uang?

Tidak.

Kalau begitu, jangan beri aku uang.

Aku bisa dapat uang nanti.

Bukan begitu.

Kau pasti akan sukses.

Aku yakin.

Aku tak pernah melihat
anak yang lebih hebat darimu.

Kau terus berkata begitu,
makanya dimarahi Ayah.

Aku takut dengan ayahmu.

Pulanglah lebih awal.
Tanpamu aku tak berdaya.

Pak Sa Min-gi, kenapa kau menjadi penakut?

Posisimu lebih tinggi daripada Ayah.

Sudah lama aku menjadi payah.

Hye-jun, kita harus realistis.

Meski begitu, kau adalah yang terbaik!

Kau sungguh pandai membaca orang.

Meski karier aktingmu tak berjalan baik,

emas bukan sampah.

Kau adalah emas.

Uang sakumu bulan depan harus kutambah.

Terima kasih.

Karena aku sudah mendengar suara cucuku,
sekarang saatnya aku bersenang-senang.

Apa? Ya. Baiklah.

Kau mengganti jam kerjamu?

Sudah lama tak bertemu.

Aku juga. Kau saja yang terima pesanan.

Kenapa?

Lihat sebelah sana.

Kau akan melakukan apa?

Menerima pesanan.

Aku dulu.

– Aku dulu.
– Aku juga.

Pesan apa?

Tolong rekomendasikan untukku.

Apa kau suka Italian BMT?

Aku suka.

Baiklah.

Kenapa selalu terlihat sama.

Tak ada yang lebih baik
dari musim sebelumnya.

Bunga dahlia itu terlalu panjang.
Potong sedikit.

Padahal terlihat cantik karena panjang.

Baik.

Aku lupa memberikanmu sesuatu.

– Ada yang harus dicuci.
– Aku…

sudah ganti baju.
Apa kau tak menyadarinya?

Bagaimana aku tahu dia sudah ganti baju?

Maksudnya, dia sudah selesai bekerja?

Mencuci baju tak akan memakan waktu lama.

Hari ini aku harus pulang lebih cepat.

Kau bisa melakukannya?

Aku akan lakukan lain kali.

Ada acara untuk merayakan
hari pertama anak sulungku masuk kerja.

Para tetangga diundang.
Aku harus pergi belanja.

Jika mendapat pekerjaan,
apa harus dirayakan satu kompleks?

Saat ini sulit mendapat kerja,
bagaimana dia melakukannya?

Kualifikasinya bagus.

Lulusan universitas ternama?
Aku sama sekali tidak iri.

Sekalipun bekerja di perusahaan besar,
dia harus bekerja selamanya.

Bekerja di mana? Jika kau beri tahu aku,
dia bisa menjadi staf di sekolahku.

Lebih baik dia menganggur
daripada bekerja di sana.

Dia memilih dari beberapa tempat
yang memanggilnya.

Jadi, dia bekerja di mana?

Jika kau mau pamer, silakan.
Jangan buang waktu.

Waktu yang kau buang bisa dipakai mencuci.

Lagi-lagi cucian.

Astaga. Aku segera pergi.

Ya ampun. Dia pandai
mengalihkan pembicaraan.

Padahal sudah lama bekerja di sini,

bagaimana bisa dia menolak
permintaanku seperti itu?

Katanya tak ada orang yang hidup
sesuai keinginannya.

Itu semua bohong.

Aku sudah tahu bahwa hidup itu tak adil.

Hidupku kali ini sudah gagal.

Jadi, mengeluh hanya merugikanku.

GRUP OBROLAN: SUAMI

Ingat, malam ini kita makan bersama.

Aku tahu. Dia memastikannya lagi.

Aku telat.

Kenapa dia telat?

Apa dia mau dimarahi ayahnya?

Aku tak bisa membantu jika begini.

Harus tepat waktu.

Kenapa harus tepat waktu?
Telat bukan masalah.

Aku tak suka.

Katanya dia pergi kerja?

Apa sudah selesai?

HARUS TEPAT…

Katakan jika kau mau sesuatu.
Aku akan minta Ae-suk memasaknya.

Aku yakin dia akan siapkan makanan lezat.

Aku iri denganmu.

Gyeong-jun sudah bekerja.
Hanya tersisa Hye-jun.

Anak itu masalahnya.

Dia hanya mengejar hal yang tak pasti.

Meski menggerutu,
kau tetap tersenyum senang

saat anakmu muncul di TV dan majalah.

Bukan begitu.

Saat itu kupikir dia bisa mencari nafkah
dengan wajahnya.

Jika tak berhasil sejak awal,
dia tak akan terus berharap.

Sudah tujuh tahun gagal, harusnya
berhenti. Dia tak bisa merelakannya.

Kuharap dia mengikuti kita
dan belajar beberapa teknik.

Jika Jin-u setampan Hye-jun,

aku akan mendukung sepenuhnya.

Kenapa kau ingin dia bekerja seperti kita?

Dia tak akan kelaparan
jika punya keterampilan.

Hei. Astaga.

Sudah kubilang, biar aku yang angkat.

Aku tak enak hati.

Kau pandai merancang.

Terluka saat kerja,
dan tak bisa pakai satu tanganmu.

Kau mau mewariskannya ke anakmu?

Aku bekerja keras karena utang ayahku.

Dia harus wajib militer juga.

Aku tak bisa tidur jika memikirkannya.

Aku tak bisa terus mengurusnya.

Astaga. Istrimu juga bekerja, ‘kan?

Aku tak bisa biarkan dia bekerja.
Dia pamer soal menghasilkan uang.

Dia pantas seperti itu.

Kau harus mengurus istrimu.

Sial.

Aku pamit dulu!

Tunggu!

Ini uang lemburmu.

Tak perlu.

Kenapa? Aku tambah 50.000 won.

Upahku 100.000 won sehari.
Mencuci tak seberapa.

Ini hadiah karena aku menahanmu

untuk pulang cepat. Ambillah.

Tak perlu.

Halo, Ibu.

Astaga. Sudah lama tak berjumpa.

Kau makin tampan.

Kau juga makin cantik.

Aku selalu pulang malam,
kita tak pernah bertemu.

Hye-jun juga selalu pulang malam.

Dia tak pernah beri tahu kegiatannya.

– Dia memberitahumu semuanya, ‘kan?
– Tentu.

Aku juga beri tahu Hye-jun
semua yang tak kuberi tahu pada ibuku.

Apa yang tak kau ceritakan pada ibu?

Rupanya ada Ibu.

Aku pamit dulu karena sudah telat.

– Hati-hati di jalan, Ibu.
– Ya.

“Ibu”?

Kenapa panggil dia seperti itu?

Untuk apa kau melakukan itu?

Lantas panggil apa? Dia ibu temanku.

Panggil saja “Bibi”.

Jangan hanya meniru cara bicara anak muda,

tiru juga cara berpikirnya.

Jangan meremehkan orang
karena gagasan kelas sosial Ibu.

Ibu tak pernah lakukan itu.

Apa yang tak kau ceritakan pada ibu?

Apa yang kau beri tahu pada Hye-jun,
tapi tak pada ibu?

Apa kau punya pacar?

Jika terus begini,
Ibu akan menulis film soal itu.

Sang Penguntit.

Hei, bagaimana makan malammu?

Besok ada peragaan busana.
Ibu siapkan salad.

Ibu membuatku merinding.

Berhenti menguntitku.

Jangan main-main.

Kau pikir posisimu sekarang
didapat begitu saja?

Apa maksud Ibu?

Kenapa kau menatap ibu seperti itu?

Akan kutunjukkan
aku bisa sukses dengan usahaku.

Tolong hargai itu.

Ibu menghargaimu dengan sepenuh hati.

Jangan khawatir.

– Bu Kim.
– Kim I-yeong.

Aku tak suka kau memanggilku seperti itu.

Aku merasa lancang jika memanggil nama.

Ini untuk istrimu.

Terima kasih.

Aku terus mengusulkan Hae-hyo,
tapi sutradara bergeming.

Jika kau katakan itu
setelah terima hadiah,

aku terlihat seperti mengharapkan sesuatu.

Tentu kau harus memberi
jika sudah menerima.

Jika Hae-hyo menjadi bintang,
setengahnya karena kontribusimu.

Hanya setengah?

Aku harus bekerja lebih keras.

PANGGILAN WAJIB MILITER

PENERIMA, SA HYE-JUN

– Ae-suk!
– Ya.

Kenapa kau sudah datang?
Aku belum melakukan apa pun.

Aku datang lebih awal untuk membantu.

Setelah seharian bekerja di rumah orang,

kau masih harus menyiapkan makanan
hanya untuk anakmu.

Benar juga. Aku bersusah payah demi anak.

Apa wanita itu tak buat onar?

Dia buat onar sesekali dalam setahun.
Belakangan dia lebih diam.

Pasti begitu.

Setelah kau berhenti,

dia memohon agar kau kembali bekerja.

Dia begitu karena sudah terbiasa denganku.

Jika mau, dia bisa mencari orang lain.

Berhenti merendah.

Apa ini?

Hye-jun dapat surat panggilan?

Hari ini akan ada pertumpahan darah.

Kau langsung pulang?

Ya. Kenapa?

Apa rumahmu begitu nyaman?
Kau senang sekali diam di rumah.

Mau makan daging di rumahku?

Aku mencintaimu, Jeong-ha!

Astaga.

– Cepat selesaikan.
– Aku mencintaimu.

– Aku mencintaimu.
– Kenapa kalian tertawa?

– Jeong-ha.
– Ya.

Apa kau mau kerja di luar besok?
Peragaan busana Homme.

Besok hari libur, jika tak mau tak apa.

Tak apa. Aku bersedia.

Meski Jin-ju bisa mengatasinya,
terlalu berat jika dilakukan sendiri.

Terima kasih.

Terima kasih. Aku akan bekerja keras.

Kau selalu bekerja keras.

– Kau harus lakukan dengan baik.
– Baik.

– Aku pamit dulu.
– Sampai jumpa, Direktur.

Hati-hati di jalan.

– Hore!
– Hore!

Sepertinya ini takdirmu.
Sa Hye-jun dan kau!

– Bagaimana ini!
– Astaga.

Wajahmu memerah.

– Tidak begitu!
– Astaga!

Hei. ini untuk Meja Enam
dan ini untuk Meja Delapan.

– Baik.
– Meja Enam dan Delapan.

Baik!

Ini pesananmu.

Silakan.

Permisi.

Apa kau memerlukan sesuatu?

Kau keren sekali.

– Terima kasih.
– Kami datang ke sini karenamu.

Apa kau mau tambah sayuran?

– Boleh.
– Boleh.

Kau populer sekali.

Halo.

Kenapa tak ke rumahku?

Agar kita bisa pergi bersama.

– Dua samgyeopsal?
– Dan bibim naengmyeon.

Aku harus cepat melakukannya.

– Harus bagaimana lagi?
– Masih belum?

Sayang! Taruh ini di meja makan.

Baik.

Biar aku yang lakukan. Tamu duduk saja.

Tamu? Apa kami tamu? Ini semua berkatmu.

Biarkan saja. Anak muda lebih cekatan.

Ya, Ayah. Biar Gyeong-jun saja.

Perkataanmu membuatku enggan.

Kau selalu seperti itu jika disuruh.

Hanya aku yang begitu?

Aku juga. Kalau kau, Yeong-nam?

Meski aku ingin melakukannya,

aku enggan jika disuruh.

Semua orang serupa. Sama saja.

Aku minta bawakan lauk,
kenapa masih di sini?

– Banyak omong sekali.
– Aku bantu. Maaf.

Jangan. Kau bintang utama hari ini.

Kau saja.

Kau diam saja. Kau hanya buat masalah.

“Tak adil! Kau tak menyuruh Jin-u,
dan hanya menyuruhku!

Zaman berubah. Tak harus wanita
yang mengerjakan pekerjaan rumah!

Itu pemikiran anakronistis!”
Aku saja yang kerjakan.

Jin-ri, kau mengatakan hal itu?

Ya. Belakangan aku tertarik
dengan hidup mandiri dan independen.

Kau terdengar cerdas. Ayahmu pasti bangga.

Cobalah tinggal dengannya.

Gyeong-jun cekatan sekali.

Kau juga bawakan ini!

Aku mau yang besar.

Astaga.

– Bawakan ini.
– Baik.

Apa aku harus keluar atau tidak?

Aku harus keluar sebelum dipanggil.

Mereka pasti berpikir aku merepotkan.

Biar kulihat.

KAMI TERUS MENDUKUNGMU

– Cepat kemari. Gyeong-jun, duduklah.
– Baiklah.

Astaga!

Mari makan.

Baik. Aku sedang berolahraga.

Aku tak bertanya.

Aku menghormati privasi.

Astaga.

Rupanya semua orang tahu

bahwa aku merasa tak enak hati.

Sampai kapan kau akan hidup seperti ini?

Apa maksudmu?

Aku sudah memikirkan pekerjaan untukmu.

Bagaimana jika kau bekerja
sebagai manajer di sini?

Kau tahu aku tak bisa kerja tetap.

Kau tak selamanya muda.

Kau bisa menghasilkan uang
dan belajar urus toko.

Usai wajib militer, kuberi tokoku
jika kerjamu bagus.

Terima kasih atas tawarannya.

Astaga. Kau langsung menolak tawaranku
tanpa dipikirkan lebih dulu?

Maafkan aku.

Dengarkanlah perkaatan orang tua.

Berdasarkan pengalamanku,
perkataan orang tua selalu ada benarnya.

Dulu aku sangat patuh.

Namun, aku sadar bahwa manusia
hanya memikirkan kepentingannya sendiri.

Hei. Aku berniat memberikanmu tokoku.

Kenapa ini untuk kepentinganku?

Hye-jun. Aku tak sangka kau seperti ini.
Kau menyebalkan.

Maksudku, bukan kau yang begitu.
Aku hanya mengatakan hal pada umumnya.

– Begitu?
– Ya.

Kau tak mungkin berpikir aku begitu.

Maka, dengar perkataan orang tua.

Coba pikirkan sekali lagi.

Kenapa kau tak menjawabku?

Baiklah.

Bagus. Kau sudah bekerja keras.

– Aku pamit.
– Ya. Hati-hati.

Ya.

Kenapa lama sekali ganti bajunya?

Bos mengatakan sesuatu?

Hari ini aku banyak pikiran.

Di saat seperti ini, harus bagaimana?

Apa yang harus kita lakukan?

Tidak mau.

Tidak mau! Aku tak akan melakukannya.

– Aku tak mau! Sial.
– Kau tak perlu melakukannya.

Aku tak akan melakukannya.

Sial.

Hei, hentikan dia. Cepat!

Kenapa kau di sini?

Ini area rumahku. Apa kau tak suka?

Tentu tidak!

Dasar Won Hae-hyo, pengkhianat itu.

Aku panggil dia untuk hentikan Hye-jun.

Tunggu aku! Dasar manusia raksasa!

Dia selalu lari dengan mulutnya.

Mungkin mulutnya adalah kakinya.

JALAN UN VILLAGE 3

Gyeong-jun, berarti sekarang kau bisa
membantuku untuk kredit pinjaman?

Aku menangani korporat.
Aku tak tahu pinjaman individu.

Sekalipun tahu,

kau harus memisahkan
masalah pekerjaan dan pribadi.

Dia bisa memutuskan sendiri.
Apa Ayah perlu mengatakan itu?

Lebih baik mencari aman.

Ayo. Mari kita bersulang lagi.

Yeong-nam, coba katakanlah sesuatu.

Tak ada yang ingin aku katakan.

Kenapa begitu?

Padahal anakmu berhasil
mendapat pekerjaan.

Jika anakku sukses seperti ini,

aku pasti sudah membanggakannya
pada semua orang.

Kakek, kurasa kau baru melakukan diss.

Apa? “Diss”? Apa itu?

Dalam bahasa kita, artinya mengkritik.

Jin-ri.

Kau harus menjelaskan.
Biar tak ada salah paham.

Bukan salah paham. Dia jelas mengkritikku.

– Sayang.
– Benar, ‘kan?

Siapa anak ayah? Aku, ‘kan?

Dia bilang akan membanggakanku
jika aku sukses.

Dia tak bisa begitu karena aku payah.

Ya ampun. Kau mengagumkan.

Kau keren sekali. Kau hebat!

Jin-ri! Ada apa denganmu?

Yeong-nam, sejak masuk kuliah,
dia menjadi aneh.

Dia hanya mengatakan fakta.

Astaga.

Ya. Tertawalah. Ini hari baik.

Ayo bersulang

untuk merayakan pekerjaan baru
anak sulungku.

Jin-ri, minumlah.

Ini adalah hadiah
karena sudah membuatku tertawa.

– Ini.
– Terima kasih.

Sayang sekali Hye-jun
dan Jin-u tak ada di sini.

– Ya.
– Bersulang.

– Selamat.
– Terima kasih.

– Selamat, Gyeong-jun.
– Terima kasih.

Menurutku model adalah orang yang memiliki
banyak dosa di kehidupan sebelumnya.

Kau tak bisa makan sesukanya.

Makan bukan segalanya.

Bagi beberapa orang,
makan adalah segalanya.

– Aku?
– Kita tak mengolok-olok mereka.

Tak mengolok-olok, tapi menghormati.

Kalian berdua serasi sekali.

Astaga. Keren sekali.

– Kakak!
– Hei, kau bisa kena marah.

Kenapa?

Ya ampun.

Hei, kalian! Naiklah.

Aku bosan.

– Aku tak mau.
– Aku mau.

Aku akan naik. Minggir.

Dia tak punya harga diri?

Apa gunanya? Dia adikmu.

Omong-omong, Hae-na sudah besar.

Bukan hanya itu.

Dia berhenti tumbuh dan mulai menua.

Aku pergi dulu!

Dia terlihat senang.

Biarkan saja.
Dia pasti dibuang di depan rumah.

Saat melihat Hae-na,
aku sadar bahwa waktu itu adil.

Kupikir hanya aku yang menua,
ternyata dia juga.

Kenapa hanya waktu saja yang adil?

Apa kau ada masalah?

Aku terus diserang

oleh kenyataan.

Turunlah.

– Turun saja?
– Ya.

– Sungguh?
– Ya.

– Jangan menyesal
– Aku akan…

menyesal.

Mari pergi ke tempat lain.

Tak mau.

Jika kau tak mau, aku juga.

Aku suka sikapmu.

– Aku harus memberimu hadiah.
– Apa?

Tunggu.

Katakanlah.

Hari ini ada masalah apa?

Aku akan merasa kesal jika mengungkitnya.

Beri tahu aku saat sudah tak kesal lagi.

Sudah ada kabar mengenai audisi film?

Belum. Kau sudah dihubungi?

Belum. Aku penasaran apakah kau terpilih.

Menurutmu salah satu
dari kita akan terpilih?

Ya.

Aku setuju.

Jika kau terpilih, aku ikut senang.

Tentu saja.

Aku juga begitu.

Aku akan pergi wajib militer jika gagal.

Aku sudah mencoba sebisaku.

Kita janji wajib militer bersama.

Orang-orang bilang,

temanmu akan berubah seiring usia.

Mengikuti keadaan.

Kita tak termasuk.
Kita tahu itu berbeda sejak awal.

Benar.

Jika hubungan kita berubah,

itu bukan karena keadaan,

tapi kehilangan kepolosan.

Kenapa menatapku begitu?

Aku mencintaimu.

Hentikan.

Hentikan! Hei!

Dasar gila!

Suatu hari pasti akan kulakukan.

Dah.

Dah.

Mukaku berantakan sekali.

Komentarmu bagus sekali

Apa aku tak boleh mengatakannya?

– Tak apa-apa. Bisa disunting.
– Baik.

Aku yakin kalian pernah kaget
saat melihat dirimu sepulang kerja.

Lalu tiba-tiba,
kalian ada janji setelah itu.

Tenang saja. Bisa dirias kembali.

Aku akan memberi tahu
cara merias yang mudah.

Jauh lebih baik, ‘kan?

Kalian harus ingat ini.
Pakai glitter di bawah mata.

Lalu, celak dan lip tint.

Lihat!

Besok aku akan bertemu Hye-jun!

Aku juga lapar!

Ayo cepat masuk.

Sudah boleh dimakan?

Ya.

Kombinasi ini enak sekali.

Rasa sedap dari daging,
rasa gurih dari keju,

dan rasa kimchi yang menyegarkan.

Setelah ini, aku buatkan
nasi goreng kkakdugi. Enak sekali.

Saat kali pertama melihatmu,
aku pikir kau pelit.

Kau selalu memilih makan di rumah.

Karena itu aku bisa membeli rumah ini.

Tentu saja, bank yang memiliki
sebagian besar rumah ini.

Kau bahkan tak tahu
apa yang akan terjadi besok.

Bagaimana bisa kau ambil KPR 30 tahun?

Aku tak bisa mengerti.

Itu karena kau
tak pernah hidup tanpa rumah.

Kau akan merasa aman
jika berada di rumahmu sendiri.

Karena itu, kunamai saluran Youtube-ku
Aku Suka Stabilitas.

Menikahlah jika kau suka stabilitas.

Tidak akan.

Kau takkan menikah
meski Hye-jun yang melamarmu?

Aku tak bisa membuang prinsipku
hanya karena Hye-jun.

Lalu, kenapa kau suka dia?

Hanya cinta yang membuatmu senang
hanya dengan memikirkannya.

Aku hanya mau merasakannya,
tak mau berpacaran.

Cinta dan miras berjalan seiring.
Kau punya miras?

Tak ada. Aku tak minum
jika besoknya bekerja.

Kau terlalu memikirkan diri sendiri.

Ya, benar.

Setelah keluar dari perusahaan,
aku memutuskan untuk hidup sesukaku.

Hiduplah sesukamu.
Korea terlalu berorientasi pada keluarga.

KEBAHAGIAAN HARI DEMI HARI

SA YEONG-NAM

Kau bahkan bernyanyi.

Dari tempat yang menyenangkan?

Kerja paruh waktu.

Kerja paruh waktu apa?

Apa yang kau lakukan sehari-hari?

Ayah sedang apa?

Jadi, kau tak mau menjawab
pertanyaan ayah?

Ayah membuatkan daun pintu baru
untuk kamar Gyeong-jun.

Kau sudah pulang?

Hye-jun.

Ibu ingin bicara.

Ada apa?

Ayahmu tak boleh tahu.

Bicara saja. Aku sangat lelah.

Sebentar saja.

PANGGILAN WAJIB MILITER

Apa yang akan kau lakukan?

Kali ini kau harus pergi.

Ya.

Baguslah.

Tapi Ibu, aku baru saja mengikuti
audisi film.

Jika lolos, akan kuanggap
sebagai kesempatan terakhirku,

dan akan menundanya sekali lagi.

Bagaimanapun, kau harus pergi. Pergi saja.

Kenapa menguping?

Rumah ini terlalu kecil.
Semuanya terdengar.

Jangan urusi hidup orang lain.
Urus saja hidupmu.

Aku hidup dengan baik. Kau tahu itu.
Kau yang membebani keluarga kita.

Jangan bicara seperti itu.

Ibu juga berpikir seperti itu, ‘kan?

Aku hanya berpendapat.

Apa…

Benar begitu?

Itu… Tak benar.

Kalian mengkritik hidupku di belakangku?
Sesama anggota keluarga?

Hei. Semua orang pasti mendapat kritik.

Apa keluarga pengecualian?

Apa standar semua orang sama?
Di sini berbeda. Di sana berbeda.

Menurut penilaianku
kepribadianmu sangat buruk.

Aku akui kau dapat pekerjaan
karena pintar.

Apa kontribusimu untuk keluarga

setelah kau dapat kerja karena usahamu?

Ya, dia berkontribusi.

Astaga. Kenapa kau ikut campur?

Ada apa denganmu?

Tak ada apa-apa.

Pergilah.

Jangan ditutupi. Karena Ibu
terus membelanya, dia menjadi manja.

Ibu mengerti. Hentikan.

– Kau baru pulang?
– Ya.

Kau sudah makan?

Sudah. Bagaimana denganmu?

Tentu saja sudah. Ada apa dengan wajahmu?

Tak apa-apa.

Kudengar kau dapat surat wajib militer.
Kau sembunyikan di mana?

Apa maksud Ayah?
Aku juga baru menerimanya.

Kau harus segera wajib militer.

Bagaimana bisa begitu? Ini sudah malam.

Bukan itu maksud ayah!

Bagaimana kau akan hidup?

Kau akan terus membuang masa mudamu?

Aku ingin bertanya satu hal.

Ayah juga menganggapku beban keluarga?

– Kenapa menanyakan itu?
– Aku juga ingin mengkritik keluargaku.

Kupikir keluarga itu istimewa.

Jika kalian mengkritik di belakangku,
aku harus ubah pemikiran.

Ayah sama seperti orang lain.

Kita sedang membahas wajib militer
dan masa depanmu!

Apa Ayah sungguh mencemaskan masa depanku,

atau takut aku akan menjadi beban?

Aku harus tahu untuk bisa menjawab Ayah.

Cara bicaramu tak sopan sekali.

Ini semua untuk kebaikanmu,
bukan untuk menjatuhkanmu!

Kau sudah coba dunia model!

Awalnya memang bagus,
tapi apa yang terjadi sekarang?

Penghasilanmu hanya cukup
untuk uang sakumu!

Kau tak bisa melangkah lebih jauh.
Lihatlah kakekmu.

Lihat rupanya sekarang.

Dulu orang bilang bahwa dia tampan

dan harus masuk TV.

Karena terlena dengan orang lain,

dia ingin menjadi penyanyi dan aktor.

Terus berkeliaran dan jadi seperti ini!

Hye-jun berbeda dengan ayah.

Kenapa terus dibandingkan dengan ayah?

Apanya yang berbeda?

Dia sama seperti saat Ayah muda.

Jika Ayah tak mengambil uangku
dan tak tertipu,

– kita tak akan hidup begini!
– Karena itu, maaf.

Makanya ayah terus diam.

Akulah beban keluarga ini.
Bukan kau, Hye-jun.

Kenapa kau terus membelanya?

Hatiku sesak tiap melihat wajahnya.

Tiap kali kulihat dia
mencoba menjadi aktor,

jantungku berhenti.

Hentikan. Cukup.

– Sial.
– Kau juga. Tidurlah.

Bagaimana aku bisa tidur
setelah keributan ini?

Ada apa denganmu?

Hentikan.

Apa maksudmu?
Dia seperti itu karena kau bela!

Dia bisa mendengarmu.

Memangnya kenapa?
Dia harus tahu kenyataannya.

Tak bisa begini. Ikuti aku. Kau juga.

Apa-apaan ini?

Astaga.

– Ibu. Aku…
– Berhenti. Kita bicara di sini.

Kau dan Ayah yang menghancurkan Hye-jun.

Dia harus dididik menjadi anak kuat.

Ibu.

Dia sedang dalam titik balik.

Jika salah memilih jalan,
dia bisa menjadi seperti Kakek.

Apa yang salah dengan kakekmu?

Apa harus dijelaskan baru kau paham?

Dia lembut dan ramah.

Yang benar saja.

– Ibu sungguh berpikir begitu?
– Aku yakin tidak.

Apa yang kalian inginkan?

Tak ada gunanya memarahi
orang yang sedang tertekan!

Sejak awal menghasilkan uang dengan
berjalan di panggung itu tak masuk akal.

Dulu, saat dia masuk TV,
kau bahagia dan membanggakannya.

Saat itu, kupikir dia akan sukses.

Aku juga agak terlena saat itu!

Yang sudah berlalu biar berlalu.

Dia harus terima kenyataan.

Membelanya takkan menyelesaikan masalah.

Ya. Kita satu pemikiran.

Karena mirip denganku,
dia pintar mengurus dirinya.

Pokoknya, biarkan Hye-jun
memilih jalannya sendiri.

Kami selalu seperti itu padamu.

Adikmu juga punya hak yang sama.

Astaga!

Aku yakin kalian pernah kaget
saat melihat dirimu sepulang kerja.

Lalu tiba-tiba,
kalian ada janji setelah itu.

Tenang saja. Bisa dirias kembali.

TERSEMBUNYI

PEKAN MODE KOREA 2014

Akhirnya besok aku bertemu dengannya.

Aku gugup.

Aku akan berkata pada pria itu,

“Aku penggemar lamamu

dan mendukungmu.”

UNGGAHAN BARU

RIASAN MALAM,
SAMGYEOPSAL DENGAN KEJU, MENYENANGKAN

RIASAN MALAM,
SAMGYEOPSAL DENGAN KEJU, MENYENANGKAN

Regangkan pundak. Fokuskan mata.

Orang di belakang, jaga jarak.

Tukar model pertama dan kedua.

Bagus. Ikuti tempo.

Hye-jun. Bagus.

Pak.

Ya.

Pandang jauh ke depan.

Coba lebih baik lagi.

Ya, di mana?

Jeong-ha! Bereskan punyaku juga.

Baik.

Ayo berias.

Baiklah.

– Halo.
– Hai.

Pak Won Hae-hyo, silakan ke sini.

Baik.

Profesor sering cerita tentangmu.

– Profesor siapa?
– Profesor Kim I-yeong.

Ibu sudah lama berhenti mengajar.

Begitu? Sekali menjadi profesor,
selamanya menjadi profesor.

Kenapa tak memanggilku?

Ya.

Kita nutrisi kulitmu dulu.

Maaf.

Tak apa-apa.

Kenapa aku tak dipakaikan masker?

Tak perlu, kondisi kulitmu sudah bagus.

GAYA RAMBUT DAN RIASAN ALAMI

Sudah selesai.

Terima kasih.

Direktur ingin bertemu denganmu.

Hampir selesai. Bolehkah aku pergi sejenak
dan selesaikan nanti?

Tentu. Kami punya banyak waktu.

Terima kasih.

Aku keluar.
Langsung keluar setelah selesai.

Tunggu aku. Sebentar lagi selesai.

Aku sudah selesai.
Tak enak jika hanya duduk.

Apa dia boleh duduk?

Boleh.

Ya, Ibu.

Apa? Ibu ada sini? Kenapa?

Aku boleh duduk di sini?

Ya.

Ibu mau aku keluar?

Apa kau biasanya sediam ini?

– Tidak.
– Baiklah.

Ibuku mau beri sesuatu.
Dia suruh aku keluar.

Pergilah.

Bagaimana dengan ini?

Tak apa. Kau bisa pergi.

Astaga. Bibirku…

Tolong selesaikan riasanku.

Karena kau adalah klien Bu Jin-ju,
aku tak bisa melakukannya.

Aku saja yang keluar?

Dia mau aku yang keluar.

Omong-omong, kau dingin sekali.

Kalian dari salon yang sama,
apa harus membagi klien begitu?

Hubungan kalian tak baik?

Ya.

Bukan begitu. Tidak.

Apa Bu Jin-ju menyebalkan?

Hei! Jika kau dia, apa bisa berkata jujur?

Akan kulakukan.

Biar aku selesaikan.

Bu Jin-ju tak menyebalkan.

Beberapa orang…
Maksudku, tak semuanya begitu.

Beberapa orang mengatakan

bahwa aku tak bisa membuat
orang lain merasa nyaman.

Kau berlawanan denganku.

Orang menyukaiku
sebab aku membuat mereka nyaman.

Ya. Bukan hanya manusia.

Bahkan anjing kompleks pun
menggonggong karena senang melihatmu.

Apa?

Anjing baik. Sekali lagi.

Hentikan.

Rupanya kau selalu begini.
Selalu merebut klien orang lain.

Kupikir sebelumnya hanya kesalahan.
Kau mengakuinya, ‘kan?

Sekali itu kesalahan,
lebih dari itu kebiasaan.

Bukan begitu. Klien minta…

Maaf. Kami pernah berjanji.

Jika hal ini terjadi lagi,
aku akan mempermalukannya.

Aku harus menepati janji, ‘kan?

– Begini…
– Tidak.

Kau tahu, ‘kan? Dengan memihaknya,
kau akan lebih menyulitkannya.

Maaf.

Orang akan mengira aku yang jahat.

“Tahan saja. Kenapa harus begitu?”

Namun, kau tahu, ‘kan?
Betapa jahatnya dirimu!

Aku akan membuat kontur wajahmu.

Aku akan lakukan shading.

“Bagaimana aku bisa seberuntung ini?

Aku tak sangka bisa mendapatkan
kesempatan seperti ini.

Ada bagusnya hidup menjadi orang baik.

Aku harus hidup bersyukur.”
Semua itu omong kosong.

Omong-omong,
Hye-jun sangat keren hari ini.

Bersikap baik dan hidup bahagia
tak ada hubungannya.

Hidup memang begitu. Orang yang jahat
dan tak peduli pada orang lain

adalah pemenangnya.

Aku tak menyesal menjadi penggemarmu.

Kau penggemarku?

Apa?

Kau menyukaiku?

Sub by NETFLIX
Ripped & Synced by @SULTAN KHILAF

Follow My IG
@sultan_khilaf_sub

Support Me:
https://trakteer.id/sultan_khilaf

Aku gugup.

Kau tahu betapa gugupnya aku?

Hei, Daniel. Ini aku.

Aku melakukan hal gila, Hye-jun.

Aku bisa mulai lagi.

Kalian mulai bersama. Lihat Hae-hyo kini.

Karena dia punya dukungan,
semua berjalan lancar baginya.

Jika tak bisa kulakukan sendiri,
aku harus berhenti.

Kini, kau bisa pergi wajib militer.

Katanya, kalian keluargaku.
Semua demi aku.

– Keluarga tak bisa bereskan segalanya.
– Maka,

jangan mengatur hidupku.

Terjemahan subtitle oleh Jessie Yobelia

About Nonton Drama Qu

Nonton Drama Korea Streaming Terupdate Subtitle Indonesia Gratis Online, Download Drama Korea, Tv Series dan Film Korea Terbaru Sub Indo. Nonton Streaming Drama Korea.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.